Kamis, 03 April 2014

Salam MiT rekan2

Mari kita aktifkan lagi proses metamorfosis yang terjadi di tahun 2012 dan bagaimana proses itu terus berlangsung di tahun 2013.

Sekarang sudah tahun 2014, memasuki bulan ke-4....

Apa yang telah kita amati dan yang telah kita tuangkan dalam tulisan dan bisa dibagikan....


Tetap nulis...



Se

Selasa, 23 Juli 2013

Ateis dan Argumen-Argumennya (1)

(Sedikit oleh-oleh dari Prothumia camp)
Pernahkah anda mendengar tentang ateisme? Atau lebih jauh lagi, apakah anda pernah berjumpa dengan seorang ateis? Namun, mungkin pula anda bertanya, Apa itu ateisme dan ateis?

Ateisme adalah paham atau ajaran yang tidak percaya bahwa Allah ada, sedangkan ateis adalah orang-orang yang menganut paham ateisme tersebut. Dengan kata lain, jika Anda berbicara tentang Allah kepada seorang ateis, maka ia akan berkata bahwa Allah itu tidak ada, kita ada secara kebetulan dan tidak ada Pribadi yang berkuasa menciptakan kita. Kita adalah produk dari evolusi atau seleksi alam. Dalam hal ini, ada dua jenis ateis, yaitu ateis yang tidak percaya bahwa Allah itu ada, dan ateis yang percaya bahwa Allah itu tidak ada. Ateis yang pertama hanya tidak percaya akan adanya keberadaan Allah, namun ateis kedua meyakini bahwa sesungguhnya, tidak ada yang namanya Allah di dunia ini. Namun pada intinya, bagi mereka, tidak ada Allah.Nah, mengapa mereka dapat berkata bahwa Allah itu tidak ada? 

Salah satu alasan para ateis tersebut adalah bahwa sains dapat membuktikan bahwa keberadaan alam semesta ini dapat dijelaskan tanpa perlu campur tangan Allah. Menurut mereka, sains dapat menjelaskan tentang asal mula alam semesta. Sains juga dapat menjelaskan tentang asal mula manusia dan kehidupan di bumi ini. Mereka menyatakan bahwa hasil penelitian ilmiah yang didapat menunjukkan bahwa alam semesta terbentuk tidak seperti yang digambarkan dalam alkitab. Salah satu bidang penelitian ilmiah yang menyelidiki tentang asal mula alam semesta ini adalah kosmologi. Dari hasil observasi para ilmuwan, ditemukan bahwa alam semesta mengembang ke segala arah - seperti balon yang ditiup semakin besar. Hal ini mengimplikasikan bahwa alam semesta / jagat raya ini memiliki awal, dan teori mengenai awal alam semesta itu dikenal dengan teori Big bang (Ledakan Besar). Menurut teori ini, semua hal (ruang, waktu, materi, planet, bintang,dan semua yang ada di ruang angkasa) dimulai dari ledakan besar yang terjadi sekitar 15 juta tahun yang lalu. Dari ledakan tersebut, tercipta hukum hukum fisika, dan tercipta pula benda benda. Menurut ateis, ledakan tersebut terjadi dari suatu keadaan kosong/vakum yang terjadi dengan sendirinya. Hal ini dipercayai oleh para ateis, bahkan oleh para ilmuwan ateis terkemuka, yang menurut ukuran dunia, sangat pintar. Namun secara logika manusia, ledakan yang berasal dari suatu kekosongan/vakum tersebut tidaklah mungkin terjadi. Mengapa? Jika kita mau berpikir sejenak, maka kita akan mendapati bahwa segala akibat (materi/benda/alam semesta yang terjadi) pasti memiliki suatu penyebab di luar benda tersebut. Jika semua alam semesta ini terjadi dari ledakan besar (dan sebelum adanya ledakan tidak ada benda apa pun, bahkan tidak ada waktu), maka agar ada alam semesta seperti yang kita lihat sekarang, pasti ada Penyebab-di luar alam semesta ini-yang menciptakannya. Penyebab tertinggi yang merupakan pencipta itulah yang kita sebut sebagai Allah. Dan Allah tidak diciptakan oleh Penyebab lainnya, karena jika ia diciptakan, maka sudah pasti, ia bukanlah Allah. Oleh karena itu, kita menyebut Penyebab Tertinggi (ultimate), yang keberadaan-Nya adalah kekal, tidak ada awal dan tidak ada akhir, tidak diciptakan oleh apa pun atau siapa pun, sebagai Allah. Bagi kita yang percaya akan keberadaan Allah, teori Ledakan ini justru mengimplikasikan adanya Pencipta ledakan tersebut, yang kita sebut sebagai Allah. Tentang ketidaksesuaian proses penciptaan dari teori ilmiah dengan penuturan Alkitab, hal tersebut haruslah dilihat dari konteks penuturan kisah penciptaan dalam Alkitab. Karenanya, untuk dapat mengatakan bahwa teori sains dengan teori dalam Alkitab bertentangan, maka orang yang mengatakan hal itu seharusnya mempelajari alkitab dengan baik terlebih dahulu. Akan tetapi, di sisi lain, orang yang mengatakan bahwa teori ilmiah dan penuturan Alkitab berbeda, tetap tidak dapat menyangkal bahwa teori ilmiah tentang ledakan besar tersebut memerlukan Allah. Namun bagi para ateis tidaklah demikian. 

Salah satu ilmuwan ateis berkata bahwa ia tidak dapat terus berkata bahwa segala sesuatu dimulai dari Allah, karena jika demikian, maka ia akan menjadi malas karena tidak perlu berusaha untuk mencari penjelasan terhadap berbagai fenomena alam. Semua orang akan dapat langsung berkata bahwa fenomena tersebut disebabkan oleh Allah. Apakah demikian adanya bagi kita yang percaya adanya Allah? Lebih lanjut lagi, apakah itu artinya, orang yang percaya adanya Allah tidak bisa menjadi ilmuwan karena ia akan berkata bahwa segala sesuatu dimulai dari Allah? Tentu saja tidak. Jika memperhatikan sejarah ilmu pengetahuan, maka dapat dilihat betapa banyaknya ilmuwan yang percaya adanya Tuhan, dan betapa banyak karya mereka bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Justru ketika ilmuwan menyadari bahwa segala sesuatu dimulai dari adanya Allah, maka ia akan semakin berusaha untuk menyelidiki keagungan Allah melalui ciptaan-Nya di alam semesta ini, dan semakin dalam ia menyelidiki alam semesta ini, ia akan semakin mengerti dan mengagumi keagungan dan kehebatan Allah. Melalui keteraturan di alam semesta, kerumitan susunan DNA, dan ketelitian konstanta di alam ini (yang bukan diciptakan oleh manusia, melainkan sudah ada di alam dan hanya ditemukan oleh manusia), manusia akan dapat menyelami arti keterbatasan manusia, dan hanya siapa sesungguhnya yang mampu menciptakan semua itu. Jadi, seharusnya, orang yang percaya kepada Allah bukanlah orang yang malas, melainkan orang yang akan sangat tekun bekerja dan belajar untuk menyelidiki alam, karena semakin dalam ia belajar, semakin ia menyadari dirinya, dan semakin dalam ia percaya adanya Allah, dan semakin ia percaya adanya Allah, ia akan semakin ingin mengenal siapa Allah yang menciptakan hal-hal tersebut. Apakah orang yang percaya Allah akan mengatakan bahwa fenomena, seperti bencana alam, berasal dari Allah, sehingga tidak perlu diselidiki dan dipahami bagaimana dapat terjadi? Tentu saja, tidak. Justru orang yang percaya dan mengenal Allah yang benar akan giat menolong orang yang tertimpa musibah tersebut, serta akan mencari cara supaya orang-orang bisa selamat. Bagi kita yang percaya kepada Allah yang benar, bencana justru mengisyaratkan bahwa dunia ini perlu pemulihan dari Tuhan dan betapa orang-orang perlu untuk diselamatkan. Jadi, orang yang percaya dan mengenal Tuhan tidak akan berpangku tangan ketika ada bencana dan hanya berkata bahwa itu dari Tuhan. Malahan menurut saya, hanya orang yang tidak mengenal Tuhan yang dapat diam melihat bencana dan menyalahkan Tuhan sebagai pembawa bencana. Namun, mengapa ada ilmuwan pintar yang tekun namun tidak percaya adanya Allah yang hebat? Alkitab memberitahu bahwa meskipun apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, namun mereka tidak memuliakan Dia. Sebaliknya, pikiran mereka menjadi sia-sia dan pikiran mereka yang gelap menjadi bodoh (Roma 1:18-25). Sekarang, bagaimana dengan kita?

To be continued....

By: De

Selasa, 09 April 2013

Beda tapi Satu

Kalimat Bhineka Tunggal Ika bisa kita temukan dalam lambang negara Indonesia, burung Garuda. Kalimat ini diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, pujangga besar pada zaman Majapahit. Zaman kepemimpinan Raja Hayam Wuruk (abad ke-14) dan Mahapati Gajahmada adalah zaman keemasan, dan muncul banyak pujangga terkenal, seperti Prapanca dan Walmiki. Bhineka artinya bermacam-macam/beraneka, Tunggal artinya satu, dan Ika artinya itu. Jadi artinya adalah berbagai macam atau beraneka ragam tetapi satu jua. Semboyan ini kemudian menjadi pemersatu bagi negara kita yang terdiri dari beraneka ragam suku bangsa, bahasa, dan agama. Keragaman ini bukan untuk memecah belah tetapi justru menjadi satu, saling melengkapi, tidak ada yang lebih tinggi, lebih hebat, lebih dominan. Semuanya memiliki ciri khas masing-masing, dan jika dipersatukan akan menjadi seperti kepingnan puzzle yang utuh tersusun rapi dan nampaklah sebuah gambar besar yaitu bangsa Indonesia.

Demikian juga seperti semboyan negara kita, Rasul Paulus menulis kepada jemaat Korintus, sebuah jemaat yang juga terdiri dari aneka ragam orang dan latar belakang yang berbeda. Mereka adalah jemaat yang diberikan berbagai macam karunia. Mereka mestinya tidak boleh terpecah belah. Paulus menggambarkan dalam 1 Korintus 12:12-26, bahwa anggota jemaat adalah tubuh Kristus yang telah ditebus oleh darah Kristus, masing-masing memiki kelebihan, karunia kemampuan yang berbeda, tetapi mereka adalah satu tubuh dalam Kristus Yesus. Paulus lebih jelas menggunakan analogi tubuh dan anggota tubuh. Setiap anggota tubuh berperan sesuai fungsinya, setiap anggota tubuh itu penting, tidak ada yang lebih hebat atau lebih penting, semua hebat dan semua penting. Mengapa? Karena setiap anggota adalah bagian dari tubuh itu sendiri. Jemaat adalah bagian dari tubuh Kristus.
Kita semua, jemaat  adalah tubuh Kristus. Kita boleh berbeda-beda dalam latar belakang dan karunia. Janganlah kita membanggakan diri, merasa saya yang lebih penting, jemaat lain tidak penting, saya lebih hebat, kalau tidak ada saya semua tidak bisa berjalan. Sebaliknya, kita perlu memiliki pemahaman, di posisi manapun, kondisi apapun, dan karunia apapun yang Tuhan berikan kepada kita, kita adalah bagian tubuh. Kita semua berperan. Tidak satu orang atau sekelompok orang saja yang berperan dalam jemaat Tuhan, tetapi semua sesuai dengan kemampuan dan karunia yang Tuhan berikan.

Mari, dari apa yang Paulus uraikan, kiranya kita mengoptimalkan setiap anggota tubuh Kristus, yaitu kita sebagai anggota gereja ini, kita ambil bagian dalam pelayanan, dengan karunia-karunia yang Tuhan berikan. Sehingga kita menjadi jemaat yang bersaksi bagi nama Tuhan. Kita juga rindu, dalam perbedaan-perbedaan kita, kita telah disatukan oleh iman kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kita. Bhinneka Tunggal Ika.

Selasa, 26 Februari 2013

Pekan Ini

Salam MiT rekan2 sekalian.

Mari kembali kita mengevaluasi perjalanan pelayanan kita di sekolah selama satu bulan ini (Jan-Feb).

Ayo buruan, masukkan evaluasi dan cerita-cerita menariknya....


I wait for your writing......


 

Jumat, 28 Desember 2012

AKHIR ADALAH AWAL YANG BARU

Salam MiT rekan-rekan sekalian.

Tidak terasa, waktu terus melaju, hampir sampai di penghujung.  Ada banyak hal dan peristiwa yang terjadi, baik suka dan duka, enak atau tidak enak, semua mewarnai hidup kita sepanjang 2012.  

Di penghujung tahun 2012 ini, ada baiknya kita melihat untaian kejadian indah yang Tuhan Yesus izinkan terjadi, setiap titik dalam hidup kita, tidak terkecuali, semua indah pada waktunya.

Ketika saya melihat kembali, apa yang menjadi komitmen di awal tahun 2012, saya menyadari begitu banyak yang tidak mencapai, mungkin ada ketidakkonsistenan dalam perjalanan hidup saya, mungkin juga ada tantangan yang berat, sehingga apa yang direncanakan tidak terlaksana, namun ada hal lain yang mungkin juga terjadi, yaitu belum waktunya Tuhan.  Namun, terlepas dari semuanya itu, saya bersyukur karena itu bagian dari proses pendewasaan dalam pemahaman akan arti hidup yang Tuhan Yesus berikan.

Sama seperti awal tahun lalu saat ini telah menjadi sebuah "lampau" yang telah lalu, akhir tahun ini pun akan menjadi "lampau" tetapi "kelampauan"-nya tentu akan menjadi awal di tahun 2013.  Akhir perjalanan kita di tahun 2012 akan menjadi awal yang baru bagi perjalanan kita yang belum kita jalani di tahun 2013.

Oleh sebab itu, marilah rekan2 sekalian, kita mempersiapkan hati dan pikiran, semua perencanaan, kita bawa dalam doa kita di hadapan Tuhan, kiranya akhir tahun 2012 menjadi awal perjalanan kita di tahun 2013, kita tidak menyerah dengan seluruh proses transformasi yang terus menerus terjadi dalam diri kita masing-masing, kita ingin menjadi lebih indah.....lebih memuliakan nama-Nya.

Selamat menjalani tahun 2013.........

By. Se

Selasa, 11 Desember 2012

Sekilas Perjalanan ke Sentebang

Saat kami diberi tugas Teaching Clinic CEC (Teaching Clinic adalah praktek mengajar rekan guru dengan mengambil secuil dari salah satu modul yang kami ambil), banyak dari kami yang berpikir untuk mengajar rekan guru di sekolah kami masing-masing.

Namun saat ditawari oleh Mentor kami untuk Teaching Clinic ke Sentebang, saya tertarik karena saya sempat minder jika diminta mengajar rekan guru di pontianak, kan mereka lebih senior dan lebih bijaksana dibanding saya. Bahkan Tuhan Yesus berkata 'seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya'. Saya juga berpikir bahwa di Sentebang tidak ada yang mengenal saya, jadi apabila saya banyak melakukan kesalahan tidak banyak orang yang tau. (Ternyata saya baru tahu kemudian bahwa kami akan merekam setiap sesi dengan video).

Sempat timbul tanggapan negatif dari teman-teman peserta CEC yang lain. Mereka mengatakan bahwa di teman-teman sendiri saja banyak yang belum dijangkau, untuk apa menjangkau ke tempat yang jauh. Namun pikiran saya berbeda. Mungkin rekan guru di Pontianak banyak yang belum mengikuti CEC, tapi setidaknya mereka banyak ikut berbagai seminar dan pelatihan. Tetapi beda dengan rekan guru di Sentebang, mereka bertahun-tahun sekali baru mendapat seminar atau pelatihan.

Dengan semangat mengajar saya pergi kesana. Tetapi saya ditegur Tuhan saat disana. Saya lebih banyak belajar dari rekan guru dan hamba Tuhan disana dibandingkan saya mengajari mereka. Saya merasa malu dengan mereka.

Dengan segala keterbatasan fasilitas dan sumber daya mereka dengan semangat terus melayani.

Ketika kita mengikuti seminar, apabila waktu sudah menunjukkan jam diatas jam 8, pasti mulai gelisah atau lelah karena telah seharian mengajar. Guru-guru disana hanya bisa menyediakan waktu diatas jam 9 malam untuk ikut seminar karena sibuk melayani. Bahkan saat mereka pulang jam 10.30 malam mereka harus menempuh jalan pulang selama setengah jam. Padahal mereka masih harus melayani keesokan paginya.

Terkadang kita kurang puas dengan penghasilan kita, mereka rela jadi guru honorer di sekolah negeri, bahkan kadang tidak dibayar demi bisa mengenalkan Yesus kepada anak-anak disana.

Kami pelayanan di sana dari sekitar jam 7an pagi sampai jam 10an malam selama 3 hari. Sungguh melelahkan bukan ? Mereka melakukan aktifitas itu setiap hari tanpa istirahat.

Jadi tidak perlu ditanya siapa yang mengajari siapa.

Inilah salah satu sumber inspirasi dan transformasi kami. Tiga hari di Sentebang sungguh membawa kenangan indah bagi kami semua. Jika Tuhan mengijinkan saya ingin mengajak lebih banyak teman lagi untuk melayani disana. Semoga banyak yang tertarik untuk melayani disana. Jika ada yang tertarik silahkan hubungi kami. Tuhan Memberkati.

By : Retno Utama, S.Kom

Minggu, 09 Desember 2012

Berita Hari ini

Rekan2, salam M.i.T

Saya senang sekali melihat proses metamorfosis yang sedang berlangsung. Beberapa terobosan yang kita lakukan, mulai dari diri kita sendiri  Keberanian untuk berbagi juga merupakan hasil yang kelihatan.

saya bersyukur ketika membaca dua tulisan baik dari Sdr. Devilim atau Sdr. Retno Utama. Ini awal yang mantap, terus tingkatkan.

Saya sharing sedikit.  Hari sabtu (8-12-2012) saya mengikuti teaching clinic Ibu Eka dan Sdr. Stefnanus.  Saya melihat suatu hal yang mantap.  Rekan2 kita telah menyiapkan materi dengan baik. Ada potensi yang sudah saatnya disharingkan.  Kedua saudara kita menyampaikan materi dengan baik sekali.  Saya harap, mereka juga akan sharing di unit lain, atau ke sekolah lain.

Terima kasih  Bu Eka dan Sdr. Stefanus.



Rabu, 05 Desember 2012

Metamorfosis = Perubahan

Salam M.i.T

Setiap guru mengidamkan terjadinya perubahan pada hidup muridnya.Perubahan menjadi cerdas, bijaksana, bertanggung jawab, dewasa dan sebagainya. Namun perubahan yang kami bahas di sini bukanlah perubahan seperti ini. Melainkan sebuah perubahan seperti ulat menjadi kupu-kupu yang disebut metamorfosis (perubahan bentuk). Perubahan yang kami maksud adalah perubahan secara keseluruhan baik luar atau pun dalam. Perubahan yang merupakan proses pendewasaan dan pengudusan yang terjadi pada setiap diri murid sehingga mereka menjadi semakin serupa dengan Kristus. Ada beberapa hal yang perlu diingat tentang Transformasi ini :
1. Untuk menjadi serupa Kristus, murid harus meneladani Kristus
2. Untuk meneladani Kristus, murid harus sudah lahir baru
3. Supaya murid lahir baru, murid harus mengenal Kristus terlebih dahulu
4. Untuk mengenal Kristus, murid harus diperkenalkan kepada Kristus melalui guru atau orang tua
5. Untuk dapat memperkenalkan Kristus pada murid, guru harus mempunyai teladan sebagai Kristus.
6. Untuk mempunyai teladan sebagai Kristus, guru harus sudah lahir baru.

Jika ada 1 saja guru yang hidupnya menyerupai Kristus, Transformasi murid akan terjadi, tentunya dengan penyertaan dari Tuhan dan Roh Kudus.

Wahai guru, kita harus selalu sadar akan pengaruh yang kita berikan kepada murid kita. Akan datang saatnya Tuhan meminta pertanggung-jawaban atas pengaruh yang kita berikan nantinya. Saat itu, Tuhan tidak akan bertanya 'Sudah berapa tahun Anda mengajar ?' atau 'Berapa banyak piala dan medali yang Anda telah hasilkan ?' atau bahkan 'Berapa banyak uang yang telah Anda dapatkan ?' Tetapi Tuhan akan bertanya 'Berapa banyak murid Kristus yang telah Anda hasilkan ?' dan 'Berapa banyak murid yang tersesat karena Anda ?' Wahai guru, sadarilah pengaruh yang dapat Anda berikan. Pergunakan baik-baik pengaruh Anda. Selamat berjuang para guru. Budi baik kalian akan terkenang sepanjang masa. GBU.

By : Retno Utama,  S. Kom

Selasa, 04 Desember 2012

Metamorphosis in Time : Lesson from a Butterfly

Just a short story about an inspiration God gave us when we went on a trip from 29 November to 1 December 2012.


We are teachers in a school who were given chance by God to study more about teaching and education. We came from different backgrounds, and only one of us studied education in university. But the diversity did not really make us that different, because we have same passion for education. How we did come to have the passion is another story to be told, but at a point of our time, we came to realize that we do have the passion for the students, for the school, and for a better education. That passion also drove us to take teacher program called CEC and go on a trip to share our passion to other teachers.

At first, this trip was just an idea that came because we had to complete an assignment from the teacher program. Soon, the idea got good responses from other party. The date was set, and preparation was taken. Of course, there were several obstacles during the preparation time. But thank God, we could go there, and had great time together.

There, we discussed so many things, mainly about education and school. So many ideas and so many thoughts came and sharpened through the discussions. One of them is about the meaning of curriculum in education. Curriculum is not just about subjects taught at school, nor is it about lesson plan and syllabus. Curriculum is about the process of transformation, experienced by the learner, to become a new person described by the vision of the educator. 

The word "transformation" ticked us because when we talk about transformation, we talk about metamorphosis (change form). The process of metamorphosis itself is unique. Just a look at the nature God created – like the life cycle of a butterfly – will help us to understand the uniqueness of metamorphosis. This process of transformation cannot happen in an instant. It needs time and cannot be forced. To see the beautiful butterfly fly, we need to create suitable environment for it to go through metamorphosis and we also need to wait patiently. It would fly in its time, not in our time. We can predict and we can support, but it is the egg of butterfly which has to go through process of metamorphosis. It is up to the butterfly, whether it wants to stay as an egg, become caterpillar, pupa, or the beautiful butterfly.


The same thing happens to our students. We can make every effort and every support to help them grow, but the growth itself is up to them. We can only wait patiently and pray to God so that they can change, grow, and experience metamorphosis, to become a beautiful man and woman in God’s eye.  The road of metamorphosis or transformation is not a smooth road; it is a bumpy, broken road with holes along the way. But in the end of the broken road, there is a bright, beautiful sight of men and women who love God and represent Christ in their lives. That is what we want to see in our students 10 and 20 years later. That is what we pray for, and that is why we do our work. In all and after all, may God be glorified.

by: Devilim


Perubahan

Saya sebagai guru ingin melihat siswa yang saya ajar mengalami perubahan.  Mereka berubah  dalam hal kognitf (intelektual), dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari kebingungan menjadi kejelasan.  Kemudian, secara afektif, mereka dapat mengintegrasikan pengetahuan dan sikap hidup mereka sehari-hari, dan secara psikomotorik mereka sungguh berani mengambil sebuah tindakan yang positif, untuk kemajuan diri dan lingkungan, tidak melulu hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk lingkungannya.  Dia tidak egois, tetapi altruis.   Itulah perubahan yang diimpikan.  

Sebagai seorang murid Kristus, kita pun ingin perubahan yang terjadi.  Paulus mengatakan perubahan dalam budimu.  Perubahan yang secara menyeluruh dalam keberadaan kita sebagai orang yang mau belajar, mau taat, mau mendengarkan, dan melaksanakan apa yang Kristus ajarkan (yang bisa kita temukan di lembaran Alkitab kita).

Mari kita mengadakan perubahan, mulai dari diri sendiri, dan sebagai guru, kita akan menjadi sebuah contoh perubahan itu.


Senin, 03 Desember 2012

Salam M.I.T


Salam MIT

Perjalanan yang menyenangkan dalam rangka pembelajaran di Jawai (Sentebang, Kal-Bar).

Setidaknya proses "metamorfosis wawasan dunia" kami sedang berlangsung.

Inspirasi yang ditebarkan oleh rekan-rekan selama diskusi mantap.

Ada langkah-langkah yang konkrit untuk mewujudkan sebuah konsep dan pemikiran yang benar tentang "doing ministry in education".

Don't give up (itulah yang selalu terngiang)

Keep moving (itulah yang selalu ingin dikerjakan)

Ora Et Labora (itulah yang menjadi kekuatan)

May Our Lord, Jesus Christ, blesses you, my fellowworkers......

Senin, 06 Agustus 2012

Back Again 2012

I'm back from the long journey in seeking my view of life.  Not just about life theory but about life itself, and self-exixstences. 

One thing I have found out that without Lord Jesus Christ in my life, there is big hole in my life existences, wether I realized or not.  That is the conclusion that I have figured out. May God, My Lord has mercy on me, in my unclear understanding of life.

Rabu, 10 November 2010

Finding the Truth

Every moment, every condition, every problem, has its truth. We need to find out what make all of them becoming important in our life. Whether we like it or not, the content of truth introduce us to an important attitude toward.

When I had car crashing with motorcycle last Saturday. I was so scare and worry about the accident. I thought that all of the happening come so quickly. At that time I didn't realize the condition, the motor cycle and the others things. I just came to know, that as soon as I realize, all that accident happened. After that, I tried to understand, behind the scene, what will God taught me.

Pay attention to every condition is crucial attitude for me. If I just make it easy with what may I thought about, It won't be good value of truth. Behind the scene, at last, I found out, God want me to be holy. God's words so clear, He want every Christian being a Christ-Liked model in their life.

So, I come to know, I come to learn again, being holy in whole of my life, especially in my MIND. It's very wonderful, it's very expensive experience for me. Thanks God. Thanks Jesus Christ.

In the moment of devotion - Se - return soon.....

Rabu, 10 Februari 2010

I am Back

Tidak terasa waktu lewat begitu cepat. Satu tahun telah berlalu, ganti di tahun yang baru.
Sudah lama juga tidak mengisi blog, tempat curhat ini. Ya ketidak-konsisten-an memang merupakan tantangan yang tidak mudah bagi saya.
Tapi, paling tidak, kali ini bisa bangkit untuk menulis lagi.i

Saat seseorang berjalan ke tempat yang jauh, dengan tujuan yang jelas dia akan ke mana, tentu dia juga akan pulang kembali. Entah dia rindu pulang, atau karena aturan, dia harus pulang, akhirnya memang dia pulang. Seorang penulis juga begitu, kalau sudah terlalu lama pergi, pergi dari kebiasaan nulisnya, dia akan kembali juga, bukan karena dituntut tetapi karena "itulah panggilan", dia akan terus rindu.

I am back to WRITE again.
I am back to SEE my world with the eyes of writing material
I am back to REVIEW what I've seen in daily
I am back to LEARN more how to wrie

.............Nice to write......

Jumat, 23 Oktober 2009

Su Ha

Berbahagialah orang yang Su Ha (Suci hatinya).

Su Ha ............

Orang yang sensitif terhadap virus kerusakan
orang yang tidak lengah terhadap pikiran jahat
orang yang tidak terbuai oleh tipuan hati
orang yang sadar saat dosa mengintip di depan pintu hatinya
orang yang tidak membiarkan hatinya dicemari oleh pikiran jahat
orang yang introspeksi diri every time
orang yang bersedia dikoreksi oleh kebenaran

------------------------------- because they will see God ----------

Rabu, 02 September 2009

Senangnya Belajar

Sekitar 2 bulan terakhir ini, saya belajar untuk mengaturkan kegiatan dalam pembinaan umat. Tidak terasa dari perencanaan awal (kurang lebih setahun lalu), tahun ini baru terlaksana. Dengan doa dan pertolongan Roh Kudus, ada semangat yang menggebu untuk terlibat lebih lagi dalam pembinaan. Tantangan cukup banyak. Mulai dari diri sendiri, kadang kadang ada rasa malas, capek dan tidak bersemangat, juga hal-hal lain yang menghalangi.

Namun satu hal yang pasti, setelah kegiatan pembelajaran itu dimulai ternyata, saya sendiri juga diberkati dengan pelajaran yang harus saya ikuti. Belajar memang tidak kenal dengan waktu dan usia, harus terus menerus. Saya baca artikel tentang "khotbah", di situ penulis artikel alam pendahuluan mengatakan bahwa seorang pengkhotbah yang terampil dan skillfull memiliki semangat belajar yang tinggi, dan seorang yang "gila" buku, setiap minggu paling tidak ada dua sampai tiga buku di tangan. Waduh.... mantep banget. Kalau bisa membaca tiga bulan dalam seminggu, pasti seru. Ini semacam impian, tetapi bisa dicapai, kalau mau berusaha dan berjuang.

Saat saya membaca artikel itu, rasanya "semangat belajar" kembali naik, rasa malas mulai bergeser, dan digantikan dengan "keinginan" mencari lewat bacaan, baik di internet maupun buku biasa. Apalagi sebagai guru tentu harus banyak belajar.

Rekan-rekan yang mengajar kiranya tidak berputus asa dalam menyediakan waktu dan melatih diri untuk terus bertumbuh, terus memiliki pengetahuan yang up to date. Kita perlu terus memperbaharui pemahaman kita. Peningkatan mutu pendidikan pribadi harus ditingkatkan melalui etos belajar sendiri yang konsisten. Selamat belajar.

Jumat, 05 Juni 2009

Hadapilah

Selalu ada hari dimana kita bekerja
Selalu ada masalah di dalam pekerjaan kita
Selalu ada cara untuk menghadapinya
Selalu ada implikasi baik positif maupun negatif
Hadapilah hari itu...... pekerjaan itu......

Jumat, 29 Mei 2009

Di Meja Kerja

Terhampar jadwal tugas
penuh dengan ketegangan
tuntutan dan target pencapaian

Membelah satu demi satu jadwal
Menjabar satu demi satu tugas

Mengerjakan satu demi satu kegiatan
Menghindari keluhan
Menjamu etos semangat kerja

Mengejar ide-ide membangun
Merumuskan serpihan pikiran
Mewacanakan dalam catatan

Akhirnya, diceritakan, disharingkan, diberikan......


Disela pekerjaan, Suatu usulan.

Masker Hidup Kita

Satu hari lagi, anugerah dari sang Khalik, bagi setiap mahkluk di bumi. Detak jam telah melewati satu detik lagi, hidup yang penuh arti, dikaruniakan bagi setiap insan yang sadar, sadar akan kasih setia-Nya, kuasa-Nya, sistem alam semesta yang rapi tersusun, dan Dialah penopangnya. Sungguh suatu anugerah yang besar kita boleh mengenal Dia.

Saat membaca majalah Tempo edisi minggu ke-4 Mei 2009, saya terkesan dengan promosi "masker" yang tercantum dalam satu halaman penuh. Ada berbagai produk masker dari berbagai negara dan berbagai merek. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri dalam menjaring virus flu. Apalagi, virus tidak terditeksi dengan mata kita, bisa melewati udara dengan bebas. Ditambah lagi, berita "virus H1N1" yang menambah korban di negara Meksiko. Perlunya memiliki sebuah masker tentu tidak dapat dihindari. Masker bisa melindungi, paling tidak, tubuh dari virus yang mematikan itu. Ada satu produk yang dapat menjaring virus atau bakteri, saat virus tersebut sampai di bagian masker, maka dia akan di"matikan".

Saya teringat akan bahaya dosa, yang mirip virus mematikan, yang bisa saja masuk ke dalam pikiran, tanpa disadari, tidak terlihat, dan sangat berbahaya. Tentu harus ada masker rohani dalam hati dan pikiran kita. Terus saya renungkan, ternyata "firman Tuhan" itulah yang menjadi masker yang manjur. Virus dosa yang mematikan menyerang jalur operasional pengaturan hidup yaitu otak (nama lain: pikiran).

Pagi ini saya membaca renungan tentang perlengkapan rohani dalam Efesus 6:17, "dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah." Firman Tuhan seperti ketopong, pelindung kepala seorang tentara Romawi jaman dulu. Seperti Masker bagi hidung kita agar terhindar dari zat yang merusak tubuh. Sebagai orang percaya, saya juga perlu terus senantiasa menggunakan Masker "Firman Tuhan" ini.

Selamat......bekerja.....
bagi rekan-rekan yang sedang bergumul dengan pekerjaannya.

Kamis, 28 Mei 2009

Melihat dari Sisi Lain

Satu persoalan kalau dilihat hanya dari satu sisi, sisi kita sendiri tentu akan menjadi
sangat sulit untuk diselesaikan. Perlu dilihat dari berbagai sisi. Mungkin inilah
alasan kenapa setiap kali menghadapi persoalan kita perlu mencari teman, konselor,
atau orang yang berkompeten memberikan review dari sisi yang berbeda.

Seorang ayah, pulang ke rumah, tanpa basa-basi memarahi anaknya, yang pas waktu
sampai di rumah juga sedang ketakutan, karena dia mendapat nilai F dalam pelajaran
Matematika, barusan dimarah oleh guru di sekolah, barusan menerima godaan atau
mungkin ejekan dari teman sekelasnya. Dengan lesu, dia menerima "semprotan"
berharga dari papanya, yang sedang naik darah. Anak itu hanya diam saja. Dia tidak banyak berkata-kata.

Di dalam hatinya, dia hanya bertanya, apakah dosaku hari ini, sehingga aku mendapat
begitu banyak semprotan, ibarat serangga yang hanya sesuap nasi, harus terkapar karena
semprotan obat serangga. Mungkin demikian pikirannya. Dia tetap terdiam, tidak
berkata-kata.

Tetapi, anak itu cukup dewasa, dia berkata, untuk apa saya terus menerus menyesal
dan marah kepada orang tua saya. Mungkin papa ada masalah berat di kantor. Aku lebih baik diam saja.

Nah, anak ini melihat sisi lain, dia keluar dari kondisinya, walaupun ini susah, tapi dia sudah mencoba.

Salam dari: Orang yang ingin melihat dari sisi lain