Satu persoalan kalau dilihat hanya dari satu sisi, sisi kita sendiri tentu akan menjadi
sangat sulit untuk diselesaikan. Perlu dilihat dari berbagai sisi. Mungkin inilah
alasan kenapa setiap kali menghadapi persoalan kita perlu mencari teman, konselor,
atau orang yang berkompeten memberikan review dari sisi yang berbeda.
Seorang ayah, pulang ke rumah, tanpa basa-basi memarahi anaknya, yang pas waktu
sampai di rumah juga sedang ketakutan, karena dia mendapat nilai F dalam pelajaran
Matematika, barusan dimarah oleh guru di sekolah, barusan menerima godaan atau
mungkin ejekan dari teman sekelasnya. Dengan lesu, dia menerima "semprotan"
berharga dari papanya, yang sedang naik darah. Anak itu hanya diam saja. Dia tidak banyak berkata-kata.
Di dalam hatinya, dia hanya bertanya, apakah dosaku hari ini, sehingga aku mendapat
begitu banyak semprotan, ibarat serangga yang hanya sesuap nasi, harus terkapar karena
semprotan obat serangga. Mungkin demikian pikirannya. Dia tetap terdiam, tidak
berkata-kata.
Tetapi, anak itu cukup dewasa, dia berkata, untuk apa saya terus menerus menyesal
dan marah kepada orang tua saya. Mungkin papa ada masalah berat di kantor. Aku lebih baik diam saja.
Nah, anak ini melihat sisi lain, dia keluar dari kondisinya, walaupun ini susah, tapi dia sudah mencoba.
Salam dari: Orang yang ingin melihat dari sisi lain
beatus ille servus quem cum venerit dominus eius invenerit sic facientem (Mat. 24:46)
Kamis, 28 Mei 2009
Flash back
Melihat kembali
hari-hari yang indah
Mengenang kembali
momen yang singgah....namun lewat begitu saja
Menangkap kembali
setiap kesempatan
untuk berkarya,
untuk mencari makna,
untuk berbagi
untuk sesama
Mendapat kembali
serpihan makna hidup
anugerah sang pencipta
Menyimpan kembali
tenaga sumber karsa
untuk sebuah karya
hari-hari yang indah
Mengenang kembali
momen yang singgah....namun lewat begitu saja
Menangkap kembali
setiap kesempatan
untuk berkarya,
untuk mencari makna,
untuk berbagi
untuk sesama
Mendapat kembali
serpihan makna hidup
anugerah sang pencipta
Menyimpan kembali
tenaga sumber karsa
untuk sebuah karya
Rabu, 27 Mei 2009
Lihat Kembali
Tidak banyak yang bisa kita lakukan
kalau hanya termenung
melihat ketidakberesan dalam diri
Tidak banyhak yang bisa kita lakukan
kalau hanya mengomentari
tanpa memberikan solusi
Tidak banyak yang bisa kita lakukan
kalau hanya mengkritik
tanpa ada masukan yang membangun
dan
Tidak banyak yang bisa kita lakukan
kalau hanya berpangku tangan
tanpa tindakan.
kalau hanya termenung
melihat ketidakberesan dalam diri
Tidak banyhak yang bisa kita lakukan
kalau hanya mengomentari
tanpa memberikan solusi
Tidak banyak yang bisa kita lakukan
kalau hanya mengkritik
tanpa ada masukan yang membangun
dan
Tidak banyak yang bisa kita lakukan
kalau hanya berpangku tangan
tanpa tindakan.
Sabtu, 31 Januari 2009
Disiplin
Kata disiplin bertautan erat dengan kata "murid" dalam bahasa Inggris, yaitu disciple, oxford learner's pocket dictionary memberikan penjelasan tentang arti dari kata tersebut demikian, "follower of a religious, political, etc. leader". Disciple/murid ini adalah pengikut dari pemimpin agama atau politik, atau pemimpin lainnya.
Orang yang mau menjadi pengikut tentu harus memiliki disiplin, ada aturan yang harus dijalani, ada latihan yang mau tidak mau harus dilakoni. Ujungya, setelah dia belajar, maka dia memiliki status sebagai murid, kalau dia murid, maka dia harus memiliki disiplin.
Kita semua yang pernah menjadi murid, masih terus belajar tentang disiplin. Sungguh indah, jika di dalam sebuah masyarakat ada disiplin, masyarakat yang berjiwa disciple, yang mau belajar dan menumbuhkan sikap hidup disiplin, suasana akan menjadi lebih baik. Sedikit pelanggaran yang akan terjadi. Perkembangan kebudayaan akan maju pesat. Masyarakat akan bertumbuh menjadi masyarakat yang berdisiplin dan dihormati.
Kita patut bersyukur, pemerintah di negara kita juga berjuang untuk menegakkan disiplin. Sebagai orang awam, saya melihat dari hal yang sederhana. Ketaatan berlalu lintas menunjukkan tingkat disiplin setiap masyarakat. Saat ini, di kota tempat saya tinggal, khususnya di perempatan jalan, telah dipasang lampu lalu lintas, kemudian ada jam digital yang memberikan petunjuk tentang lamanya lampu akan berpindah, baik dari hijau, ke kuning atau ke merah. Jam tersebut memberikan panduan agar disiplin itu bisa terwujud.
Saya senang melihat usaha yang dilakukan oleh pemerintah kota untuk menertibkan pelalu lintas, termasuk saya salah satunya. Memang, dalam kenyataan tetap saja ada yang belum terbiasa. Namun, kritikan bukan jalan terbaik untuk menaikkan tingkat disiplin seseorang. Mungkin, lebih baik setiap orang yang berdisiplin, memberikan contoh disiplin, akhirnya bisa ditiru. Setiap orang tentu memiliki sense of discipline yang tersembunyi.
Kiranya, setiap orang bisa menjadi seorang yang berdisiplin, baik di masyarakat, keluarga, dan di mana saja. Ayo ..... tingkatka disiplin kita....
Jumat, 30 Januari 2009
Kemeriahan Imlek tahun ini
Tahun 2560, tahun baru imlek, tahun yang bisa dihitung dari perkiraan tahun kelahiran Filsuf Kong Tze, 551 + 2009. Tahun ini, di kota kelahiranku begitu meriah. Malam menyambut tahun baru imlek diwarnai dengan indahnya kembang api yang kurang lebih 1 jam dibunyikan di sepanjang jalan Gajahmada (china town-nya Pontianak). Banyak orang berduyun-duyun, berjalan kaki, naik motor roda dua, dan bahkan mengendari roda empat, berdempet-dempetan di jalan, untuk menyaksikan perayaan malam imlek. Saya hanya mendengar suara kembang api yang menggelegar di langit yang cerah. Sekali-kali saya keluar rumah untuk melihat-lihat. Saya senang bukan karena hanya acara yang meriah, kembang api yang begitu banyak diluncurkan ke langit, tetapi ada yang lebih "heboh" dan "meriah", yaitu kami sekeluarga bisa berkumpul di rumah orang tua. Waktu kami bisa menghabiskan bersama untuk bercerita. Ini memang bukan di malam imlek, tetapi di hari pertama (ciu it - dialek tiociu). Kami berkunjung, bercerita di rumah sanak famili bersama papa dan mama.
Kemeriahan semakin nyata, saat suasana aman dan terkendali. Tidak ada kejadian yang menakutkan. Tidak ada keributan yang menghantui kami merayakan tradisi imlek ini. Memang, musim semi tidak ada di Pontianak, tetapi warisan tradisi musim semi, sebagai momen untuk bersyukur pada Tuhan yang memberi kehidupan bagi umat manusia. Saya, merayakan dengan ucapan syukur pada Tuhan Yesus yang telah memberikan makna hidup yang sesungguhnya, yaitu pembebasan dari dosa, kekuatan menjalani hidup ini.
Kemeriahan semakin nampak, saat saya menyadari tahun ini, tahun kembali bersatu dengan keluarga besar.
Rabu, 05 November 2008
Cerita Pengalaman Musa
Pengantar:
Siapa yang tidak kenal saya. Apalagi di tengah orang Israel. Saya adalah salah satu tokoh yang dikenal bukan saja orang Yahudi, orang Mesir, bahkan anak-anak sekolah minggu kenal saya. Saya lahir di Mesir dari keluarga Lewi. Papa dan mama adala orang Lewi. Orang Lewi adalah suku bangsa yang dipilih Tuhan untuk melayani di bait Allah. Saya besar karena diasuh oleh mama kandung. Mama angkatku adalah Puteri Firaun. Saya belajar banyak ilmu pengetahuan di Mesir tetapi karena saya membunuh tentara Mesir karena mau membela saudara sebangsaku, saya lari ke Midian.
Di Midian, saya menjadi menantu Yitro, nama istriku Zipora, dan Tuhan mengaruniakanku anak laki-laki, saya menamainya Gersom.
Tuhan memanggilku saat saya sedang menggembalakan kambing domba, saya sangat terkejut melihat semak belukar mengeluarkan api. Saya mendengar suara Tuhan. Dia menyuruhku untuk pergi ke Mesir dan membawa bangsa Israel, bangsaku, keluar dari Mesir. Saya menolaknya, tetapi Tuhan sudah menetapkanku menjadi hamba-Nya, akhirnya saya taat, karena Tuhan menolongku melalui Abangku Harun.
Saya belajar untuk bersabar terhadap bangsa Israel yang tegar tengguk dan keras kepala. Dulu pernah dua kali membuatku marah, saat di Mara dan di padang gurun. Kali ini, saya mau menceritakan sebuah peristiwa yang sangat mengecewakan saya. Sampai-sampai Tuhan ingin membinasakan bangsa Israel yang telah keluar dari Mesir.
Begini ceritanya:
Waktu itu, Tuhan menyuruhku naik ke gunung Sinai. Segala urusan dengan bangsaku, aku serahkan kepada Harun. Kemudian aku naik ke gunung Sinai, di tempat inilah, Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya. Orang Israel tidak boleh mendekat pada gunung ini, hanya aku sendiri yang boleh mendekat. Bangsaku pun takut untuk mendekatinya, karena tempat ini kudus, dan mereka bisa dihukum karena mendekati kaki gunung ini. Tuhan memberikan hukum-hukum bagi bangsa pilihannya, yaitu Israel. Anda mungkin tahu bahwa ada 10 puluh hukum yang Allah berikan kepadaku, yang ditulis oleh Allah sendiri di dua loh batu.
Aku tinggal di gunung ini selama 40 hari 40 malam. Kurang lebih satu bulan lebih sembilan atau sepuluh hari. Waktu yang cukup lama tentunya. Mungkin waktu yang lama itulah yang menyebabkan bangsaku, yaitu bangsa Israel tidak sabaran. Mereka mungkin berpikir aku telah mati dan tidak ada berita. Mereka mungkin ragu apakah aku masih bisa dipercaya. Bayangkan satu bulan lebih tidak ada kabar berita. Anda mungkin bisa membayangkan kalau negara Indonesia, presidennya tidak ada di negaranya selama satu bulan, bukankah rakyat akan bertanya-tanya. Itu juga yang dirasakan oleh bangsaku. Mereka pikir aku telah tiada. Itulah alasannya, mereka mulai menyuruh Harun untuk membuatkan patung lembu emas bagi mereka. Harun didesak, dia juga takut akan bangsa yang keras kepala ini. Dia mengiyakan permintaan mereka. Dia mengumpulkan semua perhiasan emas yang mereka punyai. Heran sekali, semua orang yang memiliki anting-anting, kalung, gelang, dan perhiasan lainnya, semua dari emas, langsung diberikan kepada Harun. Harun mengolahnya, dibakarnya, kemudian dibuatnya menjadi sebuah patung lembu. Patung lembu ini terbuat dari mas, maka disebut patung lembu emas.
Ketika aku turun dari gunung Sinai, aku mendengar suara yang begitu ramai, itu bukan suara perang, tapi suara nyanyian. Bangsaku sedang bersukaria, mereka bernyanyi bersaut-sautan. Suasana yang begitu meriah. Mereka menyembah patung itu dan lupa akan Tuhan Allah yang sebenarnya. Aku sangat kecewa. Barusan aku menerima 10 perintah dari Tuhan. Hukum kedua mengatakan jangan membuat patung menyerupai apapun baik di langit, di darat atau di laut, lalu menyembahnya. Itu adalah perintah Tuhan Allah. Sekarang bangsaku membuat patung dan menyembahnya. Sungguh sesuatu yang membuatku berduka. Bapa ibu saudara tentu tahu hukum kedua, kita tidak boleh menyamakan Tuhan dengan buatan tangan kita. Tuhan itu besar dan Tuhan itu pencipta kita. Kita tidak boleh mengagungkan kemampuan diri kita, kemampuan ekonomi kita, kepintaran otak kita, kehebatan-kehebatan yang kita miliki. Lalu kita menyamakan itu dengan Tuhan. Itu tidak boleh. Itu dilarang oleh Tuhan.
Melihat kondisi bangsaku, aku marah besar, 2 loh batu di tanganku, aku pecahkan. Dua loh yang berisi perintah Tuhan, aku pecahkan, mengapa? Karena bangsaku sudah melanggar semua perintah yang Tuhan berikan. Dua loh batu tanda perjanjian bangsaku dengan Tuhan telah dibatalkan. Mereka sekarang tidak lagi mendapatkan berkat perjanjian. Mereka akan dihukum. Mereka menyamakan Allah dengan patung lembu emas. Mungkin mereka ingin seperti orang Mesir yang menyembah patung lembu. Sayang sekali, Harun pun ikut membantu mereka. Padahal aku berharap Harun bisa menuntun bangsaku di saat aku tidak berada bersama mereka. Tuhan akan membinasakan mereka. Namun, Tuhan yang murah hati telah mendengarkan permohonan doaku untuk tidak menghancurkan semua orang. Tuhan masih memberikan kesempatan bagi mereka yang mau kembali ikut Tuhan.
Setelah aku memecahkan 2 loh batu itu, aku memberikan pilihan kepada bangsaku. Siapakah yang mau ikut Tuhan maka dia boleh berada di pihakku. Ternyata, hanya kaumku, yaitu suku Lewi saja yang mau ikut Tuhan. Sedangkan suku-suku lain memutuskan untuk tidak ikut. Oleh sebab itu, mereka dihukum mati oleh saudara-saudara dari suku Lewi. Ini adalah hukuman yang harus diterima karena telah melanggar perintah Tuhan. Akhirnya, Tuhan memulihkan kembali orang-orang yang mau kembali kepada-Nya.
Beginilah cerita pengalamanku sewaktu memimpin bangsa Israel. Sangat sulit dan tidak mudah.
Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Kita sudah mendengarkan cerita pengalaman dari Musa. Dia seorang yang disebut sahabat Allah. Dia lemah lembut dan mengasihi Tuhan serta mengasihi bangsanya. Saat bangsanya berbuat dosa, melanggar perintah Tuhan, dia memohon agar Tuhan memberikan pengampunan. Dosa bangsanya tetap harus ditebus dengan pengorbanan, yaitu hukuman yang dijatuhkan. Namun, Tuhan menjawab permohonannya agar memberikan kesempatan kepada mereka yang mau kembali pada Tuhan. Kita bisa belajar di sini, Allah adalah Allah yang Suci dan Kudus, Dia tidak akan membiarkan dosa. Namun, Dia juga Allah yang penuh belas kasihan, Dia memberikan kesempatan kepada orang yang mau percaya dan mau bertobat.
Kita bisa belajar bahwa perintah Tuhan harus ditaati. Jangan membiarkan diri kita jatuh dalam penyembahan berhala dalam bentuk modern, seperti kita menganggap diri kita hebat, menganggap diri mampu dan tidak perlu Tuhan, atau kita mengidentikkan Tuhan dengan barang-barang tertentu. Ini adalah kejahatan di mata Tuhan.
Bagaimana supaya kita tidak jatuh dalam dosa penyembahan berhala, yaitu kita mesti dekat dengan Tuhan. Kita tidak menjauhkan diri dari ibadah dan persekutuan orang percaya, berdoa dan membaca firman Tuhan secara pribadi. Dekat dengan Tuhan membuat kita mengerti perintah Tuhan, membuat kita mau taat. Roh Kudus menguatkan kita. Seperti Tuhan Yesus, Dia selalu mempunyai waktu yang khusus untuk Allah Bapa, Dia berdoa, Dia melayani bahkan Dia memberikan diri-Nya untuk diserahkan, disalibkan, untuk menebus dosa manusia. Dia juga menghadapi godaan tetapi Dia tetap teguh dan tidak goyah.
Di Midian, saya menjadi menantu Yitro, nama istriku Zipora, dan Tuhan mengaruniakanku anak laki-laki, saya menamainya Gersom.
Tuhan memanggilku saat saya sedang menggembalakan kambing domba, saya sangat terkejut melihat semak belukar mengeluarkan api. Saya mendengar suara Tuhan. Dia menyuruhku untuk pergi ke Mesir dan membawa bangsa Israel, bangsaku, keluar dari Mesir. Saya menolaknya, tetapi Tuhan sudah menetapkanku menjadi hamba-Nya, akhirnya saya taat, karena Tuhan menolongku melalui Abangku Harun.
Saya belajar untuk bersabar terhadap bangsa Israel yang tegar tengguk dan keras kepala. Dulu pernah dua kali membuatku marah, saat di Mara dan di padang gurun. Kali ini, saya mau menceritakan sebuah peristiwa yang sangat mengecewakan saya. Sampai-sampai Tuhan ingin membinasakan bangsa Israel yang telah keluar dari Mesir.
Begini ceritanya:
Waktu itu, Tuhan menyuruhku naik ke gunung Sinai. Segala urusan dengan bangsaku, aku serahkan kepada Harun. Kemudian aku naik ke gunung Sinai, di tempat inilah, Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya. Orang Israel tidak boleh mendekat pada gunung ini, hanya aku sendiri yang boleh mendekat. Bangsaku pun takut untuk mendekatinya, karena tempat ini kudus, dan mereka bisa dihukum karena mendekati kaki gunung ini. Tuhan memberikan hukum-hukum bagi bangsa pilihannya, yaitu Israel. Anda mungkin tahu bahwa ada 10 puluh hukum yang Allah berikan kepadaku, yang ditulis oleh Allah sendiri di dua loh batu.
Aku tinggal di gunung ini selama 40 hari 40 malam. Kurang lebih satu bulan lebih sembilan atau sepuluh hari. Waktu yang cukup lama tentunya. Mungkin waktu yang lama itulah yang menyebabkan bangsaku, yaitu bangsa Israel tidak sabaran. Mereka mungkin berpikir aku telah mati dan tidak ada berita. Mereka mungkin ragu apakah aku masih bisa dipercaya. Bayangkan satu bulan lebih tidak ada kabar berita. Anda mungkin bisa membayangkan kalau negara Indonesia, presidennya tidak ada di negaranya selama satu bulan, bukankah rakyat akan bertanya-tanya. Itu juga yang dirasakan oleh bangsaku. Mereka pikir aku telah tiada. Itulah alasannya, mereka mulai menyuruh Harun untuk membuatkan patung lembu emas bagi mereka. Harun didesak, dia juga takut akan bangsa yang keras kepala ini. Dia mengiyakan permintaan mereka. Dia mengumpulkan semua perhiasan emas yang mereka punyai. Heran sekali, semua orang yang memiliki anting-anting, kalung, gelang, dan perhiasan lainnya, semua dari emas, langsung diberikan kepada Harun. Harun mengolahnya, dibakarnya, kemudian dibuatnya menjadi sebuah patung lembu. Patung lembu ini terbuat dari mas, maka disebut patung lembu emas.
Ketika aku turun dari gunung Sinai, aku mendengar suara yang begitu ramai, itu bukan suara perang, tapi suara nyanyian. Bangsaku sedang bersukaria, mereka bernyanyi bersaut-sautan. Suasana yang begitu meriah. Mereka menyembah patung itu dan lupa akan Tuhan Allah yang sebenarnya. Aku sangat kecewa. Barusan aku menerima 10 perintah dari Tuhan. Hukum kedua mengatakan jangan membuat patung menyerupai apapun baik di langit, di darat atau di laut, lalu menyembahnya. Itu adalah perintah Tuhan Allah. Sekarang bangsaku membuat patung dan menyembahnya. Sungguh sesuatu yang membuatku berduka. Bapa ibu saudara tentu tahu hukum kedua, kita tidak boleh menyamakan Tuhan dengan buatan tangan kita. Tuhan itu besar dan Tuhan itu pencipta kita. Kita tidak boleh mengagungkan kemampuan diri kita, kemampuan ekonomi kita, kepintaran otak kita, kehebatan-kehebatan yang kita miliki. Lalu kita menyamakan itu dengan Tuhan. Itu tidak boleh. Itu dilarang oleh Tuhan.
Melihat kondisi bangsaku, aku marah besar, 2 loh batu di tanganku, aku pecahkan. Dua loh yang berisi perintah Tuhan, aku pecahkan, mengapa? Karena bangsaku sudah melanggar semua perintah yang Tuhan berikan. Dua loh batu tanda perjanjian bangsaku dengan Tuhan telah dibatalkan. Mereka sekarang tidak lagi mendapatkan berkat perjanjian. Mereka akan dihukum. Mereka menyamakan Allah dengan patung lembu emas. Mungkin mereka ingin seperti orang Mesir yang menyembah patung lembu. Sayang sekali, Harun pun ikut membantu mereka. Padahal aku berharap Harun bisa menuntun bangsaku di saat aku tidak berada bersama mereka. Tuhan akan membinasakan mereka. Namun, Tuhan yang murah hati telah mendengarkan permohonan doaku untuk tidak menghancurkan semua orang. Tuhan masih memberikan kesempatan bagi mereka yang mau kembali ikut Tuhan.
Setelah aku memecahkan 2 loh batu itu, aku memberikan pilihan kepada bangsaku. Siapakah yang mau ikut Tuhan maka dia boleh berada di pihakku. Ternyata, hanya kaumku, yaitu suku Lewi saja yang mau ikut Tuhan. Sedangkan suku-suku lain memutuskan untuk tidak ikut. Oleh sebab itu, mereka dihukum mati oleh saudara-saudara dari suku Lewi. Ini adalah hukuman yang harus diterima karena telah melanggar perintah Tuhan. Akhirnya, Tuhan memulihkan kembali orang-orang yang mau kembali kepada-Nya.
Beginilah cerita pengalamanku sewaktu memimpin bangsa Israel. Sangat sulit dan tidak mudah.
Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Kita sudah mendengarkan cerita pengalaman dari Musa. Dia seorang yang disebut sahabat Allah. Dia lemah lembut dan mengasihi Tuhan serta mengasihi bangsanya. Saat bangsanya berbuat dosa, melanggar perintah Tuhan, dia memohon agar Tuhan memberikan pengampunan. Dosa bangsanya tetap harus ditebus dengan pengorbanan, yaitu hukuman yang dijatuhkan. Namun, Tuhan menjawab permohonannya agar memberikan kesempatan kepada mereka yang mau kembali pada Tuhan. Kita bisa belajar di sini, Allah adalah Allah yang Suci dan Kudus, Dia tidak akan membiarkan dosa. Namun, Dia juga Allah yang penuh belas kasihan, Dia memberikan kesempatan kepada orang yang mau percaya dan mau bertobat.
Kita bisa belajar bahwa perintah Tuhan harus ditaati. Jangan membiarkan diri kita jatuh dalam penyembahan berhala dalam bentuk modern, seperti kita menganggap diri kita hebat, menganggap diri mampu dan tidak perlu Tuhan, atau kita mengidentikkan Tuhan dengan barang-barang tertentu. Ini adalah kejahatan di mata Tuhan.
Bagaimana supaya kita tidak jatuh dalam dosa penyembahan berhala, yaitu kita mesti dekat dengan Tuhan. Kita tidak menjauhkan diri dari ibadah dan persekutuan orang percaya, berdoa dan membaca firman Tuhan secara pribadi. Dekat dengan Tuhan membuat kita mengerti perintah Tuhan, membuat kita mau taat. Roh Kudus menguatkan kita. Seperti Tuhan Yesus, Dia selalu mempunyai waktu yang khusus untuk Allah Bapa, Dia berdoa, Dia melayani bahkan Dia memberikan diri-Nya untuk diserahkan, disalibkan, untuk menebus dosa manusia. Dia juga menghadapi godaan tetapi Dia tetap teguh dan tidak goyah.
Mencari Bentuk
Bentuk, apakah perlu? Bentuk itu perlu dan kita butuh bentuk.
Bentuk menyatakan keteraturan. Bentuk memberikan wawasan dan pembatasan.
Supaya tidak salah menilai atau menata. Bentuk wajah, bentuk rumah, bentuk bumi, bentuk organisasi, bentuk...., bentuk lainnya.
Tidak mudah mencari sebuah "bentuk". Tapi, suka atau tidak suka kita harus mendapatkan bentuk? Kita siap dibentuk, kita siap mencari bentuk. Bentuk apa????
Silahkan teman2, khususnya yang sering ngumpul di Jeruju, di rumah teman kita, tempat diskusi kita, mari bersama mencari bentuk
Dikomentari ya..... bentuk apa yang sedang kita cari dalam hidup ini.
selamat mencari bentuk.........
Bentuk menyatakan keteraturan. Bentuk memberikan wawasan dan pembatasan.
Supaya tidak salah menilai atau menata. Bentuk wajah, bentuk rumah, bentuk bumi, bentuk organisasi, bentuk...., bentuk lainnya.
Tidak mudah mencari sebuah "bentuk". Tapi, suka atau tidak suka kita harus mendapatkan bentuk? Kita siap dibentuk, kita siap mencari bentuk. Bentuk apa????
Silahkan teman2, khususnya yang sering ngumpul di Jeruju, di rumah teman kita, tempat diskusi kita, mari bersama mencari bentuk
Dikomentari ya..... bentuk apa yang sedang kita cari dalam hidup ini.
selamat mencari bentuk.........
Langganan:
Postingan (Atom)